5 Tempat Bersejarah di Yogyakarta




Beberapa dari kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan kota bernama Yogyakarta, kota ini memiliki berbagai keunikan mulai dari Budaya, Kuliner, serta tempat-tempat wisata yang menakjubkan dan menarik untuk dikunjungi. Tetapi pada kesempatan ini saya akan membahas tentang 5 tempat bersejarah yang ada di Kota ini, dengan tujuan agar tempat tempat ini semakin dikenal lagi dikalangan masyarakat Indonesia. Yukk kita cek apa saja sih 5 tempat bersejarah itu....

   Masjid Kota Gede

Masjid Kota Gede adalah salah satu tempat bersejarah yanng ada di Yogyakarta, Masjid ini berlokasi di Jalan Masjid Mataram, Jagalan, Banguntapan, Jagalan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55192. Masjid ini merupakan masjid yang sudah sangat tua yang ada di Yogyakarta karena masjid ini dibagun pada masa pemerinahan atau kerajaan Mataram Islam sewaktu pemerintahannya masih berdiri di kawasan Kota Gede. Sebagaimana yang kita tahu bahwa pada masa dahulu susunan tata kota islam terdiri dari beberapa unsur yaitu Kraton, Pasar, Alun-Alun dan Masjid.
Peletakan batu pertama masjid ini dilakukan oleh Sultan Agung pada tahun 1640, pembangunan masjid ini dikatakan dibagun dalam 2 tahap pembangunan, tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung hanya berupa bangunan inti masjid yang berukuran kecil sehingga saat itu disebut langgar. Tahap kedua masjid dibngun Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Masjid ini menurut saya masuk sebagai bangunan yang bersejarah karena Masjid ini merupakan salah satu bukti nyata perkembangan Kerajaan Mataram Islam pada masa itu. Arsitektur dari Masjid Kota Gede sendiri masih sangan original dan terjaga. Terdapat parit yang mengelilingi luar dari masjid ini.
Keunikan dari Masjid ini adalah yang pertama yaitu Gapura depan dari masjid ini yang memiliki arsitektur yang sangat unik yaitu adanya alkuturisasi budaya Hindu, Budha, dan Jawa. Bentuk dari gapura sering disebut sebagai Paduraksa Keunikan kedua dari Masjid ini adalah sebuah Bedug yang sangat tua yang masih ada sampai saat ini, sebuah bedug yang dulu merupakan hadiah dari Nyai Pringgit. Lagi soal keunikan yaitu pada tembok masjid yang dibangun oleh Sultan Agung yang mengunakan air aren sebagai perekat temboknya agar dapat semakin lebih kuat lagi. 
Saran saya untuk Masjid Kota Gede kedepanya adalah semoga Pemerintah atau pengelola masjid dapat meningkatkan promisinya agar orang-orang atau turis lebih banyak lagi berkunjung ke salah satu bangunan bersejarah ini

Masjid Kota Gede Tampak Depan
Sumber: googlemaps





Masjid Kota Gede dari dalam
sumber: googlemaps
Gapura Masjid Kota Gede

 Museum sandi
Museum Sandi adalah salah satu bangunan yang bersejarah juga yang ada di Kota Yogyakarta. Museum yang menyimpan sejarah perkembangan sandi yang memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia pada masa itu. Museum Sandi berlokasi di Jalan Faridan M. Noto, No 21, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224. Museum ini menyimpan banyak sekali alat sandi dan sandi sandi yang pernah ada.
Pendirian museum Sandi berasal dari gagasan Bapak Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang berkeinginan untuk menempatkan koleksi persandian di Museum Perjuangan Yogyakarta. Keinginan tersebut beliau sampaikan pada saat beliau menerima kunjungan Widyakarya Mahasiswa STSNMaret 2006. Oleh Kepala lembaga Sandi Negara, Mayjen TNI Nachrowi Ramli, gagasan tersebut disambut baik dan segera ditindaklanjuti.
      Tim museum sandi kemudian segera melaksanakan tugasnya yang dimulai dari pertengahan tahun 2006, beriringan dengan rencana pembangunan Monumen Sandi di Dukuh, Kulon Progo, Yogyakarta. Namun pembangunan Museum Sandi sempat mengalami kendala karena gempa bumi pada 27 Mei 2006. Akhirnya berkat komitmen dan dukungan dari berbagai pihak museum perjuangan dapat direnovasi kembali. Puncaknya pada tanggal 29 Juli 2008, museum Sandi diresmikan oleh menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Gubernur DIY, dan Kepala Lembaga Sandi Negera.
      Dengan berakhirnya perjanjian tersebut tanggal 15 juli 2013, Lembaga Sandi Negara mulai melakukan penjajagan kerjasama dengan Pemda DIY untuk memanfaatkan gedung Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah sebagai tempat pameran Museum Sandi. Melalui Surat Keputusan Gubernur DIY no 51/Kep/2013 tentang persetujuan pinjam pakai barang milik daerah kepada Lembaga Sandi Negara , Gubernur DIY secara resmi menyetujui. Surat keputusan Gubernur tersebutkemudian diatur lebih lanjut dalam sebuah perjanjian, nomor 3/PERJ/SEKDA?IV?2013 dan PERJ.074/SU/HK.08.01/04/2013 tentang pinjam pakai barang milik daerah kepada lembaga sandin negara.
Keunikan Museum Sandi yang pertama adalah yaitu ini adalah satu-satunya museum sandi di dunia, selain itu dahulu bangunan museum sandi adalah bangunan bekas dari Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia.
Saran saya untuk Museum Sandi adalah agar pihak Museum Sandi masuk ke level masyarakat atau sekolah sekolah untuk mengenalkan apa itu sebenarnya sandi, dan mungkin juga bisa bekerja sama dengan Pramuka.

Museum Sandi tampak depan
Sumber: http://www.adindut.com/2016/05/mengenal-dunia-persandian-di-museum.html

Museum Sandi dari dalam
Sumber: http://www.adindut.com/2016/05/mengenal-dunia-persandian-di-museum.html

  
Museum Benteng Vredeburg
Museum Benteng Vredeburg atau dulu sebagai Benteng Pertahanan Belanda pada masa penjajahannya di Yogyakarta. Museum Benteng Vredeburg berlokasi di Jl. Margo Mulyo / Jl. A. Yani No.6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122. Tempat ini juga berlokasi di kawasan nol km kota Yogyakarta dan berada di pusat Kota. Di museum ini terdapat Diorama-diorama yang mengisahkan perjuangan bangsa Indonesia baik sebelum dan sesudah kemerdekaan.
            Benteng vredeburg pertama kali dibangun pada tahun 1760 atas perintah dari Sri Sultan Hamengku Buwono I dan permintaan pihak pemerintah Belanda yang saat itu dipimpin oleh Nicholaas Harting yang menjabat sebagai Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa. Adapun dalih awal tujuan pembangunan benteng ini adalah untuk menjaga kemananan keratin. Akan tetapi, maksud sebenarnya dari keberadaan benteng ini adalah untuk memudahkan pengawasan pihak Belanda terhadap segala kegiatan yang dilakukan pihak keraton Yogyakarta. Pembangunan benteng pertama kali hanya mewujudkan bentuk sederhana, yaitu temboknya yang ahnya berbahankan tanah, ditunjang dengan tiang-tiang yang terbuat dari kayu pohon kelapa dan aren, dengan atap ilalang. Bangunan tersebut dibangun dengan bentuk bujur sangkar yang di keempat ujungnya dibangun seleka atau bastion. Oleh Sri Sultan HB IV, keempat sudut itu diberi nama Jaya Wisesa (sudut barat laut), Jaya Purusa (sudut timur laut), Jaya Prakosaningprang (sudut barat daya), dan Jaya Prayitna (sudut tenggara).

Kemudian pada masa selanjutnya, gubernur Belanda yang bernama W.H. Van Ossenberg mengusulkan agar benteng ini dibangun lebih permanen dengan maksud kemanan yang lebih terjamin. Kemudian pada tahun 1767, pembangunan benteng mulai dilakukan di bawah pengawasan seorang arsitek Belanda bernama Ir. Frans Haak dan pembangunannya selesai pada tahun 1787. Setelah pembangunan selesai, benteng ini diberi nama “Rustenburg” yang berarti benteng peristirahatan. Pada tahun 1867, terjadi gempa hebat di Yogyakarta dan mengakibatkan banyak bangunan yang runtuh, termasuk Rustenburg. Kemudian, segera setelahnya diadakan pembangunan kembali benteng Rustenburg ini yang kemudian namanya diganti menjadi “Vredeburg” yang berarti benteng perdamaian. Hal ini sebagai wujud simbolis manifestasi perdamaian antara pihak Belanda dan Keraton.
Keunikan dari tempat ini adalah susuan Diorama-diorama yang lengkap yang banyak menceritakan perjuagan bangsa Indonesia baik sebelum dan awal kemerdekaan. Yang dari pada itu bangunan benteng ini juga masih sangat terawat keasliannya yang benar benar menunjukkan bangunan Belanda.
Sara saya untuk Benteng Vredeburg ini adalah agar lebih diperbanyak dan di perindah lagi dekorasi atau tatanan taman dan properti penunjang lainnya yang dapat menambah warna warni tempat ini.

Benteng Vredeburg tampak depan
Sumber: googlemaps

Benteng Vredeburg dari belakang
Sumber : https://www.123rf.com/photo_17809094_fort-benteng-vredeburg-museum-in-yogyakarta-on-java-indonesia.html


Diorama Benteng Vredeburg
Sumber: http://vredeburg.id/id/
Gedung Agung
Gedung Agung atau yang dikenal juga sebagai Istana Kepresidenan yang ada di Yogyakarta ini mungkin bagi kalangan orang masih belum terlalu diketahui dan juga banyak dari masyarakat Yogyakarta juga tidak sadar bahwa yang mereka kenal selama ini sebagai Gedung Agung adalah sebuah Istana Negara. Gedung Agung berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Ngupasan, Gondomanan, Ngupasan, Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122.
Sejarah juga mencatat bahwa pada tanggal 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi. Penguasa tertinggi Belanda bukan lagi residen, melainkan gubernur. Dengan demikian, gedung utama yang selesai dibangun pada 1869 tersebut menjadi kediaman para gubernur Belanda di Yogyakarta hingga masuknya pendudukan Jepang. Beberapa Gubernur Belanda yang mendiami gedung tersebut adalah J.E Jasper (1926-1927), P.R.W van Gesseler Verschuur (1929-1932), H.M de Kock (1932-1935), J. Bijlevel (1935-1940), serta L Adam (1940-1942). Pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.
.
Sejak itu, riwayat istana (terutama fungsi dan perannya) berubah. Pelantikan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar TNI (pada tanggal 3 Juni 1947), diikuti pelantikan sebagai Pucuk Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (pada tanggal 3 Juli 1947), serta lima Kabinet Rebulik yang masih muda itu pun dibentuk dan dilantik di Istana ini pula.
Pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948, Yogyakarta digempur oleh tentara Belanda di bawah kepemimpinan Jenderal Spoor. Peristiwa yang dikenal dengan Agresi Militer II itu mengakibatkan Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri, beserta beberapa pembesar lainnya diasingkan ke luar Pulau Jawa, tepatnya ke Brastagi dan Bangka, dan baru kembali ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949. Mulai tanggal tersebut, istana kembali berfungsi sebagai tempat kediaman resmi Presiden. Namun, sejak tanggal 28 Desember 1949, yaitu dengan berpindahnya Presiden ke Jakarta, istana ini tidak lagi menjadi kediaman Presiden.
Sebuah peristiwa sejarah yang tidak dapat diabaikan adalah fungsi Gedung Agung pada awalnya berdirinya Republik Indonesia (tanggal 3 Juni 1947). Pada saat itu Gedung Agung berfungsi sebagai tempat pelantikan Jenderal Soedirman, selaku Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selain itu, selama tiga tahun (1946-1949), gedung ini berfungsi sebagai tempat kediaman resmi Presiden I Republik Indonesia.
Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada masa dinas Presiden II RI, sejak tanggal 17 April 1988, Istana Kepresidenan Yogyakarta/Gedung Agung juga digunakan untuk penyelenggaraan Upacara Taruna-taruna Akabri Udara yang Baru, dan sekaligus Acara Perpisahan Para Perwira Muda yang Baru Lulus dengan Gubernur dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan, sejak tanggal 17 Agustus 1991, secara resmi Istana Kepresidenan Yogyakarta / Gedung Agung digunakan sebagai tempat memperingati Detik-Detik Proklamasi untuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan kini juga sering digunakan sbagai tempat transit Presiden dan tempat peristirahatan.


Keunikan dari Gedung Agung ini adalah banyak koleksi-koleksi langka seperti Lukisan-lukisan dari berbagai negri dan seniman dan juga terdapat arca arca hindu budha disana. Berbagai macam koleksi atau peningglan Presiden sebelumnya juga terdapat disana, keunikan lainnya yaitu bangunan dan arsitektur Istana ini yang megah dan sangat terlihat sekali khasnya perpaduan budaya Jawanya juga.
Saran saya untuk Gedung Agung  yaitu agar pengelola Gedung Agung lebih mudah dalam hal memberikan ijin kunjungan masuk untuk hal edukasi dan semakin mempromsikan Gedung Agung bahwa Gedung Agung terbuka untuk umum dan menjelaskan kepada masyarakat bahwa Gedung Agung adalah Istana Negara atau Istana Kepresidenan RI. Karena peraturan dari pengelola Gednung Agun yang tidak diperbolehkan memfoto dari dalam maka tidak ada foto yang bisa saya tampilkan.

Gedung Agung tampak depan
Sumber:: http://jogjakarta-istimewa.blogspot.com/2012_08_01_archive.html?view=classic
 Kampung Pecinan Ketandan
Kampung Pecinan Ketandan adalah salah satu kampung yang bersejarah di Kota Yogyakarta, kenapa bersejarah? Karena dahulu kampung ini dihuni oleh banyak orang orang dengan etnis Cina sehingga kampung ini dikenal dengan kampung pecinan. Kampung Pecinan Ketandan berlokasi di di sebelah tenggara perempatan antara Jalan Malioboro, Jalan Margo Mulyo, Jalan Pajeksan, dan Jalan Suryatmajan, Yogyakarta. Kampung ini adalah kampung yang mempunyai peran penting dalam perkembangan etnis Tionghoa di Yogyakarta.
Keberadaan Ketandan tidak lepas dari salah satu tokoh bernama Tan Jin Sing ( antara tahun 1760 sampai 1831). Tan Jin Sing merupakan seorang Kapitan Tionghoa, Tan Jin Sing adalah putra seorang bangsawan Jawa. Ayahnya Demang Kalibeber di Wonosobo dan Ibunya masih keturunan Sultan Amangkurat dari Mataram bernama Raden Ayu Patrawijaya. Saat Tan Jin Sing masih bayi, ayahnya Demang Kalibeber meninggal dunia. Ada seorang sudagar Tionghoa bernama Oie The Long merasa kasihan dan memutuskan untuk mengadopsi. Anak laki-laki yang masih bayi tersebut lantas diberinama Tan Jin Sing. Anaknya ganteng, putih, matanya lebar, ibu angkatnya senang dan setuju Tan Jin Sing diadopsi,

Sepeninggal ibu angkatnya, Oie The Long lantas meminta Raden Ayu Patrawijaya (ibu kandung Tan Jin Sing) untuk mengasuh Tan Jin Sing. Dari seringnya bertemu, Oie The Long jatuh cinta dengan Raden Ayu Patrawijaya dan keduanya akhirnya menikah. 12 tahun menikah, ibunya Tan Jin Sing (Raden Ayu Patrawijaya) meninggal. Sebelum meninggal itu, ia bilang ke Tan Jin Sing jika dialah ibu kandungnya, Tan Jin Sing lanjutnya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pandai. Bahkan Tan Jin Sing mampu menguasai 3 bahasa yakni Hokian, Mandarin dan Inggris.    Setelah dewasa, Tan Jin Sing lalu menikah dengan perempuan Tionghoa anak seorang Kapitan Cina di Yogyakarta. Sepeninggal mertuanya, Tan Jin Sing pun lantas diangkat sebagai Kapitan Cina. Karena kepandaianya, Tan Jin Sing bisa mengambil hatinya Raffles (Gubernur Jenderal Hindia -Belanda yang berkuasa di Jawa saat itu). Keduanya menjadi teman,
Tan Jin Sing, lanjutnya, lantas menjadi penjembatan antara Sri Sultan Hamengku Buwono III dengan Thomas Stamford Bingley Raffles. Karena jasanya itu, Sri Sultan Hamengku Buwono III mengangkat Tan Jin Sing sebagai Bupati dan diberikan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadiningrat. Selain gelar, Sri Sultan HB III juga memberikan hadiah tanah dibawah pengawasan KRT Secadiningrat serta mengizinkan etnis Tionghoa untuk tinggal di sana.

Keunikan dari kampung Pecinan Ketandan ini adalah masih khas dan masih banyak rumah rumah jaman dulu yang dimiliki oleh orang orang etnis Tioghoa yang masih hidup disana, jika berada disana kemungkinan kita akan merasa berada di kawasan perkampungan di Tiongkok. Gapura yang megah dan indah juga menyambut bagi orang yang ingin masuk ke kampung Pecinan Ketandan ini.
Saran saya untuk kampung Pecinan Ketandan ini adalah Pemerintah atau Dinas Pariwisata seharusnya lebih memperhatikan lagi dan lebih membuat kampung ini lestari dan makin memunculkan identitasnya sebagai kampung Pecinan agar nantinya diharapkan kampung ini dapat menjadi sebuah Desa Wisata yang dapat menarik wisatawan.
Suasana Kampung Pecinan Ketandan sumber:
http://www.solopos.com/2017/01/30/wisata-jogja-berburu-foto-bertema-imlek-di-kampung-pecinan-788603
 

Gapura Kampung Pecinan Ketandan
Sumber: http://www.klikhotel.com/blog/mari-napak-tilas-ke-9-tempat-bersejarah-di-yogyakarta/




Nahhh jadi itu tadi 5 Tempat bersejarah di Yogyakarta, semoga dapat menambah wawasan anda dan semoga kita tidak melupakan sejarah yang mempunyai peran dalam perkembangan masyarakat kita.

Terima Kasih ^^


Komentar